Kamis, 13 Februari 2014

Untuk Bapak




Untuk : Bapak

Halo, selamat sore, Bapak!

Sepertinya akhir-akhir ini ada yang Bapak pikirkan ya? Hmm.. aku sudah menduga hal itu dari seminggu lalu. Bapak nampak murung dan selalu berdiam diri. Tak lagi menyeruput kopi hitam, tapi kopi yang biasa. Tak lagi mau makan nasi, Bapak selalu membuat mie. Itu tak sehat, Pak...

Ternyata dugaanku benar adanya. Hari ini, Ibu bilang, " Bapak sedang ada masalah di kantor..". Raut Ibu pun sedih. Pasti Ibu sedih, teman hidupnya yang sudah berpuluh tahun tak mau makan tadi pagi. Pun tak mau membawa bekal yang disiapkannya. Kata Ibu, Bapak sedang malas makan.

Sedih sekali melihat Bapak murung seperti itu. Bapak yang tegas dan pintar. Bapak yang selalu nampak bersemangat, kulihat hanya duduk diam sambil matanya menerawang. Apa yang bisa kubantu untuk sedikit meringankan masalahmu, Pak?

Orang tua adalah pelita. Tanpa mereka, kita tak ada. Tanpa Bapak dan Ibu, aku tak mungkin bisa seperti sekarang, merasakan kehidupan dan meraih impian.

Bapak, bercerita dan berbagilah  jika itu bisa sedikit meringankan masalahmu. Aku sudah mendengar masalahnya dari Ibu. Ternyata korupsi itu memang ada di mana-mana ya, atasan yang tak bertanggung jawab itu memang tak tahu diri aku rasa. Lalu sekarang limpahan pekerjaan yang menggunung itu harus kau selesaikan sendirian, Pak? Aku sedih mendengarnya. Aku tahu Bapak hebat, tapi aku tahu Bapak kecewa atas semua ini. Bapak yang sabar ya.., jaga kesehatan jangan sampai sakit.

Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Bapak. Semoga masalah ini lekas selesai dan Bapak mau makan lagi. Jangan makan mie terus, Pak... ngga baik unuk kesehatan. Jangan lupa selalu berdoa ya. Aku sayang Bapak.


Salam hormat,

Putrimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar