Rabu, 23 April 2014

Tak Akan Ada Puisi Terakhir Untukmu


1
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Pada pagi yang mengembun kedinginan
Tanganku ada selalu menengadah merapal namamu
Pun, saat matahari mendahului tiba di ujung jendela

2
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Walau panas menerpa hari-hari
Detik-detik yang angkuh dan jarak yang sinis
Wajahku basah oleh doa-doa

3
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Saat hujan menderas lalu esok masih ada gerimis pagi
Atau rindu kita menggigil oleh pertengkaran
Lihat, genggamanku yang tak pergi darimu

4
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Walau senyap menyergap bisu kita
Kata hilang pada embusan udara malam
Kita diam pun, aku tetap di sini

5
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Pun pada hari-hari mendatang
Yang entah bahagia atau tidak
Bagiku, bahagia selalu tiba tepat waktu

6
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Lelaki yang padanya kutemukan surga
Yang pada degupnya aku bersembunyi dari dunia
Pada setiap napasnya kutitipkan doa

7
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Wahai lelaki yang padanya aku kelu mengucap aksara
Rindu-rindu mengangkasa bertemu bintang-bintang
Hilang bersama kisah yang mengabadi


8
Tak akan ada puisi terakhir untukmu
Karena kamulah puisi yang kan selalu ku-eja selamanya.

4 komentar:

  1. Rerumputan merunduk--menyesap rindu dari setiap rapalan nama dalam sajak ini. Indah sekali.
    Kapan-kapan, mungkin kita bisa berbagi sajak juga:)
    Blog-ku: interleaved.blogspot.com

    BalasHapus
  2. hai salam kenal, terima kasih banyak ya sudah mau membaca, baik, siap :)

    BalasHapus
  3. Keren puisix kak :) saya musti belajar banyak hehehe
    oh iya mampir ke blog ku juga yah kak saya sangat senang sekali kalau puisiku
    bisa dapat kritikan dari kakak :)
    http://inha-blu3-sky.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. trims Lulu ;) iya sdh ke blogmu...

    BalasHapus