Tampilkan postingan dengan label dieng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dieng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Lewat Petang, di Secang

Hujan, dari balik kaca jendela bus, di pertigaan Dieng



Hujan selepas Dieng
Hujan kali ini terasa berbeda. Ada rasa enggan meninggalkan tempat ini. Jalanan basah, seperti kaca jendela yang tengah kutatap. Bening. Berkabut di luar sana. Beberapa orang masih nampak menyelamatkan diri dari hujan yang menderas. Kusapu lembut tetesan air hujan yang menempel di kaca jendela, lalu kulukis namaku dari tetesannya, juga lukisan-lukisan lain yang entah apa. Tanganku basah. Seperti hatiku.

Rasa dingin masih tersisa. Nyata. Sapaan bisu di pelupuk mataku, tentang kearifan lokal tak mungkin terlupakan. Dieng, dan banyak kisah di dalamnya. Selalu ada cerita dalam setiap perjalanan. Selalu ada yang tersisa pada setiap perjalanan. Kenangan. Abadi dan selamanya.

Senja makin menua saat bus yang kutumpangi melaju perlahan dari pertigaan jalanan utama kawasan Dieng. Teman perjalananku duduk diam, entah memikirkan apa. Apa mungkin dia sama denganku, masih ingin berlama-lama di sini?

Aku masih saja memandangi pemandangan di luar jendela, ketika tanpa disadari, rasa kantuk yang sangat begitu saja menyerang. Mungkin ini efek dari semalaman yang tiada bertemu nyenyak ketika tidur. Kabarnya, semalam cuaca hampir mencapai kisaran nol derajat. Kabarnya.

Tadi malam itu waktu seperti berputar-putar dihitungan jam yang sama. Lama sekali. Dingin sekali. Jarum jam seolah tak beranjak dari tempatnya, mematung.

Aku terbangun oleh guncangan bus yang seolah-olah mengayun tubuhku. Sedikit lama untuk mengumpulkan nyawa. Masih belum tahu bus ini tengah berada di mana. Setahuku, kami harus turun di terminal bus Wonosobo, di mana kami akan berganti bus menuju Yogya.

Kernet bus memberikan semacam notifikasi bahwa kami harus turun di sini.
 “ Habis, di sini saja”, katanya singkat.

Bingung.

Jadi, kami seolah-olah diperintahkan untuk :  “sudah ya, sampai di sini saja, bye!”
Baiklah, enggan untuk berargumen, kami pun turun. Aku. Masih dengan rasa kantuk yang tersisa.

Kami berjalan kaki menembus keramaian perempatan yang terbentang di depan mata. Aku masih saja berceloteh di dalam hati. Lebih tepatnya, sedikit khawatir tentang keberadaan kami sekarang ini. Teman perjalananku tenang-tenang saja air mukanya. Baiklah. Lelaki selalu memenangkan logika rupanya. Aku, terlarut perasaan khawatir berlebihan.

Kami lalu menepi di tepi jalan yang ramai oleh orang yang tengah berteduh dari hujan. Hujan menjadi akrab sekali dengan kami selama perjalanan kali ini. Seorang bapak memberiku tempat duduk, sungguh baik hati. Udara di sekitarku masih sama. Dingin.

Setelah bertanya dan menimbang segala kemungkinan, akhirnya kami memutuskan untuk naik bus yang tujuan akhirnya menuju Magelang  , karena ternyata tak bus yang langsung menuju Yogya dari tempat kita diturunkan tadi.  Ya, tak apa, santai, masih di Jawa ini, kalau kemalaman, lihat nanti. Padahal, sedikit ketar ketir sih sebenarnya:D


Pertemuan tanpa sengaja
Tak lama kami sudah berpindah tempat ke dalam bus yang penuh sesak, bus ekonomi, yang menurut kabar itu adalah bus terakhir. Pantas sesak,  tapi bersyukur kami masih dapat tempat duduk.

Sangat khas Indonesia. Segera saja berbagai aroma hinggap di ujung hidungku. Kepulan asap rokok berbagai merk menyerbu pernafasanku. Teman perjalananku yang baik hati segera meminjamkan syalnya. Ia tahu, aku tak suka asap rokok.


Bus belum beranjak juga setelah kurang lebih dua puluh menit. Panas segera saja menyergap. Maaf saja, urusan ngetem ini menjadi salah satu masalah yang selalu berhasil membuatku hilang mood. Jujur, sangatlah rugi waktu dua puluh menit. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi benar.  Lalu kemudian pada saat acara ngetem ini menjadi tiga puluh menit pun, bus masih saja diam di tempat. Baik. Sabar lebih baik, atau mungkin lebih tepatnya pasrah.

Saat lampu-lampu jalanan berpendar  indah di tengah temaram, bis melaju perlahan. Seulas senyum, akhirnya. Desir angin meniup perlahan, nyaris tak terdengar, tenggelam dalam alunan suara pengamen yang lebih dominan.

“ Kita kemalaman ngga ? “ , tanyaku was-was.

Teman perjalananku tersenyum. Semoga tidak, katanya.

Hujan masih setia menemani perjalanan menuju Magelang yang terasa lambat ini. Rasa kantuk tak juga membuatku ingin memejamkan mata, entah kenapa. Padahal aku nyaman duduk di sebelah teman perjalananku, aku aman. Iya, aman, di dalam bus ekonomi yang penuh sesak ini :D

Kupandangi gelap di luar sana, basah. Setia berteman dengan dingin. Teman perjalananku sepertinya tengah berbincang dengan penumpang di sebelahnya, seorang ibu. Aku melihat sekilas, lalu tersenyum padanya. Namun obrolan mereka tak terlalu jelas, bus ini cukup bising. Aku hanya sempat berkenalan saja.

“Sebentar lagi kita turun” , ujarnya.

Aku terhenyak. Bukannya kita menuju Magelang ya? Bukannya masih lama? Heran.

“ Eh, kenapa turun sekarang? “, tanyaku polos.

Ternyata, ibu baik hati yang tengah berbincang dengannya tadi menuturkan, bahwa kami harus turun di Secang, tepatnya di Terminal Secang, karena kalau sampai di Terminal Magelang pun sudah terlalu malam, dan dipastikan tidak ada bus menuju Yogya. Kulirik jam di telepon genggamku, kurang lebih pukul 20.00.
Kalau pun di Terminal Secang tak ada bus, kami bisa menyetop bus tujuan Yogya di pinggir jalan, kecil kemungkinannya, tapi alternatif ini sangat dianjurkan untuk dicoba.

Di perempatan Secang, kami turun. Kami bertiga, aku, dia dan Bu Ratna, kenalan baru kami di bus barusan. Ternyata beliau pun turun di tempat yang sama, rumahnya masih cukup jauh dari Secang, di daerah Kali Bening, harus diteruskan menggunakan ojeg.

Kami menyebrang sambil sedikit berlarian, menerobos hujan yang tak lagi gerimis. Lalu lintas di Secang tak terlalu ramai.

“ Sebentar ya, ibu mau beli roti bakar dulu, untuk anak ibu di rumah ”, ujar Bu Ratna, menghentikan langkah kami sejenak.

Sejenak lalu aku merasa lapar, namun rasa lapar itu sudah menguap, tapi tidak nampaknya bagi dia. Teman perjalananku memesan roti bakar juga. Sambil sesekali berbincang dengan Bu Ratna, aku memandangi tempat ini. Hujan, lampu dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang. Aku merekamnya.

Secang, sehabis petang



Aku dan Bu Ratna menyeberang duluan. Tanganku digenggamnya erat-erat. Terasa hangat. Ah, jadi teringat ibu di rumah. Aku tersenyum dalam hujan.

“ Jadinya bagaimana? naik apa? sudah malam ini...”, pertanyaan beruntun bernada khawatir dari Bu Ratna.

Lalu aku menjelaskan rencana kami, segala kemungkinannya pula. Tanganku masih digenggamnya, hangat sekali. Walau baru aku kenal sepintas lalu, namun dari mata, bicara dan genggaman tangannya, beliau terlihat sangat nyata mengkhawatirkan kami. Teringat anaknya, katanya. Aku diam. Haru.

“ Sudah, jika kemalaman, menginap saja ya di rumah ibu, ini nomer handphone ibu, atau sekarang saja langsung ke rumah ibu....”, ajaknya. Aku pun melempar senyum.

Semua masih jelas terekam. Raut wajahnya yang khawatir, genggamannya yang hangat sampai di hatiku, serta ketulusannya. Mengingatkanku padamu, ibu.


Bu Ratna berpamitan pada kami yang sangat berterima kasih atas tawaran menginap di rumahnya. Nomor ponselnya sudah aku simpan.


“Kalau tidak dapat bis, hubungi ibu, minta antar sama tukang ojeg sampai di rumah ibu, pasti sampai, sudah malam ini...” 


Roti bakar, hujan yang masih menderas dan pelataran toko retail. Kami duduk sambil memandangi lalu lalang kendaraan yang masih ramai. Iya, kami memutuskan untuk mencoba dulu, berharap masih bertemu bus jurusan Yogya yang melintas dan mau mengangkut kami berdua.

Waktu berjalan cepat, hampir tiga puluh menit. Kami berdua mungkin sedikit apa ya namanya, entah, sulit terlukiskan. Sepertinya, tawaran Bu Ratna tadi cukup logis, di tempat ini, dengan informasi yang nol, tanpa teman dan kerabat, kami mau menginap di mana?

Berjalan dalam hujan dan sedikit menertawakan diri sendiri. Secang dan Magelang ini tidak ada dalam rute perjalanan kami, mengapa jadi begini?  Kami melintasi Terminal Secang yang diam dalam malam, tak menyisakan apapun dalam ruangnya.  Kembali ke pangkalan ojeg, menghubungi Bu Ratna, dan dalam hitungan menit, kami sudah duduk manis di atas motor menembus malam kota Secang menuju Kali Bening, kediaman Bu Ratna. Semua terjadi begitu cepat, begitu saja, tanpa terduga.

Hujan sudah reda saat kami tiba di kali Bening. Teh hangat menyambut kami yang kedinginan malam itu, juga keramahan Bu Ratna. Bahagia itu adalah ketika mendapat sesuatu yang tak pernah terbayangkan, yaitu keluarga baru, di tengah perjalanan. Semakin teringat ibu di rumah. Bu Ratna mengajakku untuk tidur di kamarnya. Berbincang sejenak sebelum tidur, ya, seperti di rumah saja :)



Hadiah pagi yang sempurna
Gugusan pegunungan Slamet nampak gagah terlihat dari tempatku berpijak, bersama awan putih yang berdiam anggun mengelilinginya. Sisa-sisa hujan semalam masih enggan pergi. Membius tanah dengan harumnya yang khas. Tetesan embun membias indah di sela dedaunan, kabut tipis samar  berbisik pelan tentang keindahan yang sederhana. Pagi di sini sungguh mengagumkan.

Kami melangkah perlahan sepanjang Kali Bening. Udara seolah tersenyum lebar pagi itu. Semesta indah di pelupuk mata.

Dari arah yang berlawanan, kami melihat sekawanan bebek berjalan cepat teratur, sungguh lucu. Gemericik air yang bening dan hijau dedaunan menyegarkan pandang. Hadiah pagi yang sempurna.

Sungguh benar, keindahan memang tak pernah cukup tergambar dengan kata-kata. Biar mata merekam lebih dalam dan hati yang abadi menyimpannya.

Kesempurnaan pagi di Kali Bening tergenapkan dengan hadirnya malaikat-malaikat kecil yang tengah mandi di sungai. Iya, mereka mandi. Tersenyum malu-malu ketika kusapa. Muka mereka berseri-seri diterpa mentari pagi. Nampak bahagia.

“Jadi teringat masa kecil”, gumam teman perjalananku.

Kaki kami berhenti di sebuah warung kecil di tepi sungai. Gorengan yang masih hangat, teh manis yang hangat pula, obrolan pagi, dan keindahan alam. Tempat yang tak pernah sedikitpun terpikirkan sebelumnya akan kami singgahi. Kejutan dalam sebuah perjalanan :)



Puzzle perjalanan
Perjalanan selalu mengajarkan banyak hal. Tentang keberanian, penerimaan pun ketulusan. Berani melangkah lebih jauh dari biasanya, menerima setiap hal yang kita temui dan membuka hati lebar-lebar agar lebih peka merasakan sisi humanis manusia, bernama ketulusan.

Pada perjalanan, akan kita temui banyak rupa manusia, dengan segala sisi kehidupannya. Perjalanan itu seperti sebuah foto, serupa gambar yang menceritakan banyak hal, tanpa berbicara. Hanya hati, yang bisa merasakan makna perjalanan. Perjalanan hati. Menyimpan rapi sebentuk kenangan.

Dan perjalanan kali ini memberiku sebuah pertemuan dengan  seorang ibu yang begitu penyayang, yang tulus membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk kami, dua orang asing yang tak sengaja ditemuinya di dalam bus kota. Kami, yang tak pernah dikenal oleh Bu Ratna sebelumnya. Kami, yang keesokan harinya hingga hari-hari berikutnya masih selalu ditanyakan kabar olehnya. Ibu, yang sudah kuanggap ibuku sendiri. Kebaikannya bukan buatan.

Memaknai perjalanan adalah belajar memandang sesuatu secara sederhana. Melepaskan segala harap berlebihan, agar tak ada ego dan kesombongan. Orang-orang yang kita temui, teman-teman perjalanan dengan segala keunikannya, benda-benda mati di sekeliling, waktu yang tak tepat rencana, alam dan semesta. Itu.

Perjalanan. Bukan pada indahnya saja tentang apa yang akan kita lihat, bukan pada seberapa banyak kesenangan kita hisap, bukan pada beratus-ratus foto yang bisa kita abadikan. Ini bukan hanya tentang itu.

Ini tentang seberapa sederhana menghabiskan pagi, tanpa hiruk pikuk. Ini tentang seberapa sederhana diri menyapa manusia baru. Ini tentang seberapa sederhana kita, memotret manusia. Aktivitas, kehidupan dan denyut yang mungkin bukan pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari. Memotret kehidupan yang jika pada kehidupan biasanya, lupa kita hayati. Ini tentang sederhana. Ini tentang kita dan dunia.

Episode petang di Secang, tak lekang hingga kini. Ada niat yang masih kusimpan rapat-rapat. Akan ku sapa kembali pagi hari di sana, akan ku genggam lagi tangan Bu Ratna erat-erat, dan akan kusempurnakan perjalananku menuju ke sana, Kali Bening, Magelang.


Terima kasih, Bu Ratna, untuk ketulusan yang tak terperi. Terima kasih perjalanan, yang selalu memberi banyak lembar kenangan. Terima kasih, kamu, teman perjalanan, untuk selalu ada di setiap jejak waktuku.




Selasa, 22 Mei 2012

Puzzle Perjalanan :)




dari sudut 22D-22E kereta kahuripan, 3 Mei 2012 

Perjalanan ini adalah perjalanan kesekian kalinya yang saya lakukan. Awalnya sih hanya seputaran bandung-Yogya saja, tapi tiba-tiba ada yang kepengen ke Dieng sana :p  Menarik juga kayaknya mengunjungi dataran tertinggi kedua itu, apalagi ada teman yang baru pulang dari sana dan melihat foto-fotonya yang keren :D

Singkat cerita, setelah googling, diskusi  dan bertanya teman, rute perjalanannya jadi berubah, Bandung-Dieng-Yogya-Bandung ^__^V.

Sebelum dipertanyakan kredibilitas saya sebagai seorang guru gara-gara jalan-jalan melulu, ko bisa jalan-jalan lama, ngga ngajar..?? Kebetulan tanggal 7-9 Mei anak-anak UN, jadi saya libur :D

3 Mei 2012
Kamis, 3 Mei 2012, Stasiun Kiaracondong cukup ramai. Setelah seharian padat beraktivitas di sekolah, ngajar full, rapat rutin kamis sampai sore, *thanks bos*, pulang ke rumah hujan gede sedikit badai *kenyataan*, hanya ada satu yang sedikit membuat lega, saya sudah packing dari hari sebelumnya, hehehe.. jadi sampai rumah tinggal mandi dan siap-siap ke stasiun. Mengecek orang Bekasi yang mepet-mepet pula lagi jadwal travelnya.. doh.. :D Mana dia bilang travelnya ngga sampai poll surapati pula, beda jurusan, hehehe.. tapi alhamdulillah orangnya nongol duluan di stasiun sepersekian detik lah dibanding saya.. :p

Kereta api kahuripan ini sebenarnya sampai ke Kediri sih tujuan akhirnya,1 tiket kereta ekonomi seharga Rp.35.000,  jadi waktu pesen tiket seharusnya saya beli tiket yang Kutojaya saja, lebih murah, sehaga Rp.22.000, karena kami akan turun si stasiun Kroya. Dan sekedar info (bagi yang belum tau), pesanlah tiket kereta jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, agar tidak keduluan sm om calo :D

Malam itu kereta Kahuripan sesak oleh penumpang. Di depan saya dua orang ibu-ibu yang sepertinya kakak beradik atau bersaudara. Yang membuat iri adalah selama perjalanan mereka nyenyak sekali tidurnya, berbeda dengan saya yang susaaaaah banget mau tiduur.. *malang benar*. Padahal saya lelah sekali seharian. Kalau orang lain mungkin berlaku teori, semakin cape maka tidur akan semakin nyenyak, namun tidak demikian dengan saya. Terimakasih :D

Oh ya, ada bonus nih saat dinihari. Bulan nampak penuh dan indah dari atas kereta api, sayang tidak terabadikan :D

4 Mei 2012
Kereta Kahuripan mengantar kami ke stasiun Kroya masih pagi sekali. Kurang lebih pukul setengah 4 pagi. Celingak celinguk mengamati keadaan di stasiun sambil mencari-cari informasi, bagaimana caranya kita bisa sampai ke terminal Purwokerto. Akhirnya kita diberi tahu ada bis yang bisa membawa kami ke sana, tapi kita harus berjalan kaki sedikit ke tepi jalan. Keluar dari area stasiun, kami ditawari naek becak, tapi saya pikir, dari semalem udah duduk melulu, pegel juga mendingan jalan siih...hehe..menikmati udara pagi hari (lebih tepatnya, subuh hari di Kroya :D). Kurang lebih 10 menit lebih berjalan kaki kita sampai di pertigaan. Di sana sudah ada bis jurusan Purwokerto yang ngetem. Sekedar info, ada hal yang menarik yang saya temui, mas-mas supir dan tukang ojegnya mengenakan baju batik yang seragam :)

Perjalanan subuh hari yang kami tempuh sejam untuk sampai ke terminal Purwokerto, biaya bisnya Rp.10.000 (kalo ngga salah :p). Satu jam dan cukup tergunjang-gunjang, khas bis-bis Jawa Tengah :D
Jadi kalau kalian ke sini, bayangkan saja sedang berarung jeram di daratan :p Kami sholat shubuh di sebuah mesjid di terminal Purwokerto. Dan lagi-lagi ada hal menarik di sini. Ke dalam mesjid, barang-barag bawaan kita ngga boleh ikut serta, harus dititipkan, dan ngga ada choice lain, harus :) Biasanya kan cuma sendal or sepatu aja kan ya.. barang-barang harus dititipkan sih kalau kita ke tempat-tempat di mall :D   Alasannya biar kebersihan mesjid terjaga, dan memang mesjidnya rapih dan bersih, untuk ukuran mesjid yang ada di area terminal :)

Pukul 5 tepat kami meneruskan perjalanan ke Wonosobo. Dan sama dengan bis sebelumnya, bisnya melaju cepat dijalanan yang bergelombang, jadi serasa arung jeram gitu :p Mentari meninggi dan bis makin disesaki penumpang. Bis ini membawa kami ke pertigaan Wonosobo. Ongkos bis dari Purwokerto ke Wonosobo sebesar Rp.18.000.

Kami tiba dipertigaan Wonosobo sekitar pukul delapan pagi. Menikmati sarapan teh manis dan gorengan pinggir jalan sambil menunggu bis berangkat :) .

Pertigaan Wonosobo ini adalah spot terakhir menuju Dieng. Tapi dari sinilah kita bisa menikmati perjalanan.Sepanjang jalan kita bisa menikmati pemandangan perbukitan, dengan view gunung Sindoro-Sumbing-Slamet. Kereeen ^__^V

Ongkos bis dari pertigaan Wonosobo ke pertigaan Dieng sebsar Rp.10.000. Kami tiba dipertigaan Dieng sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Ketika turun dari bis jangan heran kalau akan ada beberapa tukang ojeg yang menawarkan jasanya. Mereka menawarkan untuk mengantar ke tempat-tempat wisata yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tapi karena sebelumnya kami sudah mencari-cari informasi bahwa letak dari objek-objek wisata di kawasan Dieng itu saling berdekatan. Jadi, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, lagian sayang banget sih kalo pake ojeg, ngga bisa puas nikmatin pemandangan di Dieng, belum tentu bisa ke sini lagi kan..??

Akhirnya berjalan kaki-lah kami. Dalam hati sih ragu, soalnya ngga ada tanda-tanda keberadaan objek wisatanya. Satu-satunya cara yang paling bijak adalah bertanya. Bertanya ke penduduk setempat. Kami hendak ke Telaga Warna. Katanya sih arahnya sudah benar, tinggal ikuti saja jalan raya terus, nanti juga ketemu. Hmm.. baiklaah.. perjalanan dilanjutkan. Ngga rugi juga sih jalan kaki.. pemandangannya indah ^__^V  trus jalanannya ngga terlalu rame pula :)

sepanjang jalan menuju Telaga Warna - Dieng :)


nemu yang beginian di pinggir jalan ^__^V

 Jalanan masih sepi dan belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan si Telaga Warna, duh... tapi, karena sebelumnya juga udah nanya lagi sama bapak yang bawa dokar kalo udah ngga jauh lagi, akhirnya dengan yakin setengah ragu (saya sih itu mah, dia mah engga kayaknya :p) kami melanjutkan perjalanan (lagi). Akhirnya! Gerbang masuk Telaga Warnanya keliatan sodara-sodara, asiik ^__^V

Tapi dasar ya, terakhir makan itu adalah ngemil gorengan pagi hari, jadi  milih makan dulu :p Bingung makan apaaaa...??? *udah laper, bingung, males.. :p  Mie ayam akhirnya jadi pilihan. Tapi emang ngga tau kenapa sih males juga makan nasi :D

Makan sambil nebeng nge-cash kamera dan handphone *klasik banget yah! Udah gitu ikut ke kamar mandi pula, haha.. sekalian deh.. ibunya baik juga :D   Makasiih ya ibuu ;)


Waktu itu sekitar jam setengah dua belas  lebih lah ketika kita masuk ke kawasan Telaga Warna. Harga tiketnya cukup murah loh, hanya Rp. 6.000,- saja. Penasaran sih pas masuk, mana-mana telaga nya... dikirain bakalan jalan agak jauh gitu ke dalamnya, taunya cuma jalan semenit dua menit telaga yang indah itu udah di depan mata, aduuh.. subhanallah banget lah pokoknya... indaaaah ^__^V


Telaga Warna sekitar pukul 1 siang , penuh kabut :)

Saya, adalah orang yang akan langsung diam sih kalau melihat pemandangan yang menakjubkan, dan akan mengapresiasinya dalam bentuk JPG *memotret* :D

Satu hal lain yang saya suka adalah di sana tempatnya sepi, tidak terlalu ramai dan hiruk-pikuk. Cocok sekali untuk menenangkan pikiran :p Di tepi Telaga Warna ada tempat duduk yang terbuat dari bekas patahan pohon, kalau nanti kamu berkesempatan ke Telaga Warna Dieng ini, cobalah duduk di situ, view yang akan kau dapat sangat-sangat pas, sepanjang mata kamu memandang, telaga akan terbentang di pelupuk matamu, sangat indah ;)

Betah duduk-duduk di bangku itu, kalau ngga inget sama waktu sih :p


dari bangku itu :D

Nah... di Telaga Warna juga ada yang unik, ada 2 potongan kayu besar yang menjorok ke dalam telaga. Jadi ya kalau kamu cukup 'pemberani' *uhuk  bisa loooh jalan-jalan naik ke potongan pohon besar itu trus di foto-foto deh di situ, kayak saya :p


hebat kan berdiri di situ :p



Hati-hati aja sih, pohonnya suka goyang-goyang, kalau kamu ngga sanggup tinggal lambaikan tangan aja :D


tapi saya ngga berani duduk sih , ngga berani jalan lebih jauh :p


Ada yang unik juga dari telaga ini, karena kandungan belerangnya yang cukup tinggi, air telaga ini bisa berubah warna loh, waktu kita ke sana sempat melihat dari abu-abu ke hitam... unyuu ^__^V


air telaga yang berubah warna :)

Selain telaga nya indah, kita bisa berjalan-jalan di sekitar telaga, sejuk deh.. adeeem...Kebetulan sekali waktu itu hujan menyapa siang di telaga warna. Berwudhu untuk sholat dhuhur itu sesuatu sekali dinginnya. Airnya dingin sekali sodara-sodaraa >.<

Hujan siang hari itu indah sekali. Ketika kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju theater. Letaknya lebih ke atas lagi. Sisa-sisa hujan masih memberikan kesejukan dan membuat tanah basah juga tetes-tetes air yang menempel di dedaunan juga ranting-ranting pohon. Sukaaaa.... ^__^V

sehabis hujan siang hari :)

Menurut informasi yang kami terima, pertunjukan theater, atau lebih tepatnya pemutaran film dokumenter akan tayang sore hari. Lumayan juga ya naik ke atas, rada pegel, hehehe.. untungnya pemandangan di sana indah, jadi ngga terasa :D

Sesampainya di tempat teather, sudah ada beberapa orang yang sepertinya akan menonton juga. Tapi ternyata pertunjukannya belum akan dimulai. Kami pun duduk di pinggiran ruang theater. Di sekitar situ ada warung yang menjual kentang dan jamur crispy. Seorang anak perempuan, yang sepertinya putri dari ibu penjual sempat menawari kamu jamur crispy. Awalnya sih kami ngga antusias, tapi yah dari pada nunggu sambil bengong, akhirnya kami pesen juga tuh jamur crispy sama kentangnya juga . Taraaa..... ternyata enak banget deh jamur crispynya, jadi nambah lagi, hehehe.. *doyan apa laper? :p*

Pernah dengar kan tentang anak gimbal di Dieng? Ada cerita yang lucu, jadi gini, entah kebetulan atau apa, anak perempuan dari ibu penjual jamur crispy itu ternyata anak gimbal, orang sana menyebutnya anak gembel. Awalnya kami ngga tahu anak itu berambut gimbal, soalnya emang ngga keliatan. Anak itu antusias banget deketin kita, eh pas lagi makan ngga sengaja rambutnya keliatan gimbal, jadinya pas udah ketahuan anak itu trus kabur deeeh.. >.<

Anak gimbal itu ngga seperti anak kebanyakan. Mereka terkadang jadi menutup diri karena keberadaan dirinya yang tak sama dengan anak-anak seusianya. Jadi mereka suka bete aja kalau orang-orang sekitar mereka terlihat tertarik dengan rambut gimbalnya. Sebelum seorang anak menjadi gimbal, biasanya dia akan menderita demam tinggi terlebih dahulu. Begitu pun apabila rambut gimbalnya akan bertambah, dia akan demam lagi. Lalu, kapan rambut gimbalnya boleh dipotong? Biasanya anak gimbalnya yang bilang, rambutnya mau dipotong. Rambutnya ngga boleh dipotong kalau si anak belum minta. Nah biasanya acara potong rambut anak gimbal ini dihadiri banyak turis, sekitar bulan Agustus. Si anak gimbal biasanya juga punya permintaan khusus ketika rambutnya akan dipotong, ada yang minta dibelikan sepeda, hewan peliharaan dan lain-lain.

ini dia si jamur crispy yg enak itu :D

men-candid si anak gimbal dari belakang, gimbalnya kembar! ^__^V

Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, akhirnya kita bisa menonton theater ala Dieng, itu pun harus melobi bapaknya, karena ada serombongan ibu-ibu yang datang, padahal kan kita udah antriii dari tadi. Oke, akhirnya kita masuk juga. Ternyata theater nya itu adalah film dokumenter sejarah Dieng dan kawasan sekitarnya. Oke cukup bikin ngantuk, dan orang di sebelah saya pun sudah tidur rupanya :p  Saya pun begitu, padahal rombongan ibu-ibu ributnya bukan main, mereka itu nonton apa arisan yah? :p

*bersambung(lagi)