Sabtu, 25 Mei 2013

Cerita Bayang-Bayang





Aku berdiri sejajar kaca-kaca jendela ruangan ini yang tak terlalu tinggi, namun cukup kokoh.

Padanya, aku dengan  leluasa melihat manusia-manusia yang tengah lelah terjebak kemacetan, berharap ingin segera pulang menyapa dan bercengkrama dengan keluarga mereka di rumah. Aku masih enggan beranjak, bahkan sekedar untuk menyapa segelas teh yang sedari tadi kuacuhkan.

Di sudut ruangan, berdiam kotak kecil berwarna cokelat pekat. Tak terlalu besar. Tertutup. Kupandangi lamat-lamat kotak itu. Pandanganku tak akan bisa dengan tiba-tiba membuka kotaknya, namun aku tahu, ada kamu di dalamnya. Lalu aku tersenyum. Pikirku menggembara. Ditelan senja yang semakin mendekat, bersama lembayung yang malu-malu datang bersama awan yang sedikit kelabu.


Dirinya setahun lalu, mungkin tak ubahnya manusia yang berjalan, namun ditelan bayang-bayang. Iya, aku manusia yang tenggelam bersama kenangan. Bagiku semua menjadi sama saja dalam pandanganku. Hanya ada dia yang enggan enyah dalam pikirku. Semua yang hadir di lensa mataku penuh oleh dirinya. Aku seperti gila. Tak tahu mana nyata, mana maya.


Lalu suatu pagi, aku seolah tersadar dari tidur teramat panjang, yang sebenarnya aku malas terbangun dari tidurku sendiri. Aku sudah lelah bertemu kenyataan. Pagi sehabis hujan yang harum tanahnya sangat aku sukai. Terbangun oleh wangi tanah. Kakiku entah kenapa  ingin beranjak dari ruangan yang sudah sangat lama memenjara diriku ini. Jendela berderit, tanda sudah lama tak difungsikan semestinya. Mataku memicing dalam, silau atau mungkin malu, lama tak bersua dengan matahari pagi.

Ada senyum yang dibawa fajar pagi hari itu. Senyum seseorang yang melintas di depan kamarku. Kemeja putihnya nampak sederhana dengan rok batik abu-abu. Senyumnya sedikit memang, tapi cukup untuk kunikmati pagi itu. Siapa kamu? Apakah kamu sama dengannya? Hanya bayang-bayang yang enggan sirna?
Aku masih belum sadar dengan hari ini rupanya. Kenangan bayang-bayang terlalu kuat menahanku di ruang ini. Kupejamkan mata lelahku. Masih ada kamu rupanya.


..................................................................................................................................................................


Kotak itu masih membisu di ujung ruang. Makin gelap semenjak senyum datang di pagi yang sekejap. Aku makin terpuruk tertahan kenanganmu. Aku mau bebas. Hatiku ingin lepas. Teriakku tak sampaikah pada hatimu? Percuma saja. Kau tak pernah mendengarku. Kita tak saling mendengarkan bukan?



Aku rindu bayang-bayangmu. Sejujurnya.

" Apa kabar bayang-bayang? Masih kah setia mengikutiku hingga kini? "

Aku tersenyum masam. Kamu hebat, selalu menepi ke mana aku pergi. Tapi, sudahlah. Berhenti saja di situ. Aku sudah lelah diikuti olehmu. Aku sudah memutuskan berhenti di sini. Ada jalan lain yang ingin aku lewati, tanpamu. Ada pagi hari yang ingin aku lewati tanpa aku harus takut membuka mata. Ada sore yang harus aku sapa tanpa jeda, dan ada hati lain yang harus aku temukan pada suatu masa. Dan itu bukan kamu, bayang-bayang.

Aku sudah lelah menjadi seorang yang selalu melarikan diri. Aku hanya ingin lebih berani. Aku hanya ingin membuat kotak baru berupa kenangan-kenangan tanpa bayang-bayang.


#14DaysofInspiration


4 komentar:

  1. hhhh... seperti berkaca saya.. sangat mudah mengusir wujudnya, tapi sulit mengusir bayangnya... mesti #brainwashing.. hehe

    BalasHapus
  2. hihi.. mengucapkan selamat tinggal pada bayang2 butuh keberanian :)

    BalasHapus
  3. membuat kotak kenangan baru tanpa bayang-bayang memang sulit, perlu keberanian yg begitu besar :)

    BalasHapus
  4. @Susi Retno Juwita, iya benar sekali, karena bayang-bayang sbnrnya ada, hanya tgantung kitanya mau masih melihat atau tidak , mksh sdh mau baca ya, salma kenal :)

    BalasHapus