Rabu, 26 Februari 2014

LeLaki Rumit dan Perempuan Sepele




“Apa kau bilang? Sejak kapan perihal ‘jodoh’ dikatakan hal yang sepele?” Kuteguk kopi hitam yang sedari tadi kudiamkan saja keberadaannya. Obrolan ini menurutku lebih menarik. Terutama sosok yang sedang berada tepat di hadapanku.

“Bukannya hal-hal yang terlalu sering dibicarakan orang-orang berarti itu adalah hal-hal yang sepele, biasa saja, e-x-t-r-a-o-r-d-i-n-a-r-y”, ujarmu sambil menekan suaramu pada kata terakhir.

Perempuan ini, pemikirannya selalu diluar jangkauanku, selalu membuatku kepayahan mengejar langkahnya. Bagiku, jodoh itu adalah sesuatu yang sakral. Jodoh dan menikah. Itu padanannya bukan? Mengapa menjadi hal yang sepele di matanya? Heran.


“Kamu kebanyakan teori!” Pedas sekali ucapannya. Aku mendengus kesal.

Pandangan perempuan yang mempunyai nama depan sama denganku ini tertuju pada sesosok lelaki yang sambil lalu membuang puntung rokok.

“Kenapa kamu memandangi aku?” tanyaku heran.

“Jawab aku, terhadap lelaki tadi yang membuang puntung rokok sembarangan, apa yang akan kamu lakukan?”, tanyanya tiba-tiba.

Aku diam beberapa saat.

“Ah, kamu rumit! “ Perempuan itu berlalu dari hadapanku dan membuang puntung rokok itu ke tempat sampah.









Senin, 17 Februari 2014

Tuan Pagi, Kencan Yuk!




Dear, Tuan Pagi.

Apa kabar embun di sana? Bertemukah kamu dengannya? Katamu, semalam kamu tidak bisa tidur ya? Mungkin rindu membuatmu resah, atau mungkin kamu terlalu lelah dengan aktivitasmu.  Jaga kesehatan ya, Tuan.

Kamu masih ingat kencan kita yang terakhir? Seminggu lalu kita berpetualang menembus Ciwidey. Bertemu dingin dan kabut Situ Patengan dan Kawah Putih. Kita habiskan dalam sehari. Cape sekali, tapi aku senang.

Dulu kamu suka tertawa kalau aku bilang, kita sedang kencan. Kencan itu kan konotasinya untuk orang yang sedang pacaran, kita kan sudah menikah, hehhe.. Ngga apa-apa dong, sudah menikah tetep harus mesra kan? :D Harus malah...

Jadi, selanjutnya kita ke mana nih kencannya? Aku sih inginnya ke Mahameru. Tapi, melihat kondisi pergunung-api-an sekarang yang sedang tidak kondusif, ya sudah kencan ke gunungnya nanti-nanti saja ya, Tuan.

Sebenarnya, bagiku kencan itu tidak berarti harus ke mana gituu.., di rumah juga ngga apa-apa sih. So, kencan kita selanjutnya di rumah saja ya? Kencan di meja makan saja, nanti aku buatkan kamu masakan ya! Oh.. apa? Kamu mau aku buatkan teh sereh juga? Puding pandan? Nasi goreng? Oke... nanti aku buatkan ya!

Menikmati waktu bersamamu selama ini aku sebut kencan sih, di manapun aktivitas kita. Menemani kamu membetulkan pompa air yang rusak, menemani kamu tes CPNS, menemani kamu membetulkan listrik, semuanya. Semua waktuku bersamamu adalah kencan.

Sudah ya, Tuan.., suratnya sudah dulu. Sampai ketemu nanti ya di kencan kita selanjutnya!


Salam sayang,

Istrimu.



Minggu, 16 Februari 2014

Surat Untuk Nona Berinisial "N"





Nona, kamu sering kali bertutur, bahwa di dunia ini tidak akan pernah habis orang-orang yang berbuat baik. Benar, tentunya itu sungguh pernyataan yang benar adanya. Dunia tidak akan pernah kehabisan stok orang-orang baik, walau kita tahu bahwa orang-orang yang tidak baik pun linier bertambah. Dunia pun tidak akan pernah kehabisan orang-orang yang memiliki 'hati', catat itu. Namun, Nona, kamu pun perlu mengingat sesuatu, bahwa, orang-orang baik itu pun memiliki prioritas tentang kebaikannya akan ditujukan kepada siapa.

Pilih-pilih? Bukan, hanya mungkin mereka melihat dulu, apakah benar-benar kebaikan yang mereka berikan akan benar-benar bermanfaat atau kebaikan mereka hanya untuk dimanfaatkan saja? Satir ya, tak apa. Aku hanya mencoba jujur dengan diriku sendiri. Aku harap kamu pun begitu.

Oh ya... , ngomong-ngomong tentang kejujuran. Nona pernahkah tak jujur pada orang-orang di sekeliling Nona? Tentang alasan dibalik semua tindakan dan keputusan yang kau ambil? Iya, mereka memang tak berhak tahu ya, itu semua privacymu, Nona. Tapi menurutku, tindakanmu kurang bijak. Ada banyak orang-orang yang care kepadamu, peduli terhadapmu, tapi kamu meninggalkan mereka semua, tanpa alasan yang 'dewasa' menurutku. Hmmm.. lalu, masih menurutku ya, di tempat baru, adakah hal bermanfaat atau suatu kemajuan dalam hidupmu barangkali, Nona?

Tahukah, Nona? Kebaikan memang akan selalu mengiringi hidup kita, aku sangat percaya. Tapi tolong, tidak melulu harus membuat 'repot' orang-orang yang memang 'ada' dan 'selalu baik' untukmu. Mereka pun punya kehidupan sendiri yang harus diurus, punya keluarga sendiri yang tak ingin diganggu, disita waktunya hanya untuk memikirkanmu bukan? Kamu sering bilang, "aku tak ingin merepotkan orang..". Tapi, sesungguhnya kamu telah melakukan itu.


Ketahuilah, Nona, bahwa hidup bukan hanya soal bersenang-senang dan bergantung pada orang. Berdirilah di atas kakimu sendiri, sesakit apapun rasanya. Maka kau akan belajar tentang hidup. Hargailah orang-orang yang selama ini peduli denganmu, sekeras apapun kata-kata yang mereka lontarkan, sungguh, mereka sebenarnya menyayangimu, tak ingin kau lari dari apa yang ingin kau hindari, tapi mereka ingin kamu belajar menghadapi.

Nona, semoga kau mengerti isi suratku ini. Aku berusaha membantumu, walau sedikit. Jujur, aku kecewa denganmu yang tak kunjung berubah. Jangan kau selalu bilang, bahwa akan selalu ada orang-orang baik di dunia ini, menurutku, itu hanya pembenaranmu saja. Semoga kau mengganti prinsip itu, dengan belajar menjadi orang yang tak selalu mengandalkan orang banyak, belajar menghargai orang-orang yang peduli denganmu. Mereka adalah sahabat-sahabatmu, Nona. Walau mungkin sekarang mereka nampak diam, sesungguhnya mereka hanya bosan mungkin, kau seperti tak peduli akan kepedulian yang mereka berikan. Jadilah mereka apatis.

Oke, Nona, cukup saja surat dariku. Aku lebih lega sekarang. Semoga kamu selalu baik-baik saja dan 'bahagia menurut versi yang kau ciptakan'.

Salam.

Kamis, 13 Februari 2014

Untuk Bapak




Untuk : Bapak

Halo, selamat sore, Bapak!

Sepertinya akhir-akhir ini ada yang Bapak pikirkan ya? Hmm.. aku sudah menduga hal itu dari seminggu lalu. Bapak nampak murung dan selalu berdiam diri. Tak lagi menyeruput kopi hitam, tapi kopi yang biasa. Tak lagi mau makan nasi, Bapak selalu membuat mie. Itu tak sehat, Pak...

Ternyata dugaanku benar adanya. Hari ini, Ibu bilang, " Bapak sedang ada masalah di kantor..". Raut Ibu pun sedih. Pasti Ibu sedih, teman hidupnya yang sudah berpuluh tahun tak mau makan tadi pagi. Pun tak mau membawa bekal yang disiapkannya. Kata Ibu, Bapak sedang malas makan.

Sedih sekali melihat Bapak murung seperti itu. Bapak yang tegas dan pintar. Bapak yang selalu nampak bersemangat, kulihat hanya duduk diam sambil matanya menerawang. Apa yang bisa kubantu untuk sedikit meringankan masalahmu, Pak?

Orang tua adalah pelita. Tanpa mereka, kita tak ada. Tanpa Bapak dan Ibu, aku tak mungkin bisa seperti sekarang, merasakan kehidupan dan meraih impian.

Bapak, bercerita dan berbagilah  jika itu bisa sedikit meringankan masalahmu. Aku sudah mendengar masalahnya dari Ibu. Ternyata korupsi itu memang ada di mana-mana ya, atasan yang tak bertanggung jawab itu memang tak tahu diri aku rasa. Lalu sekarang limpahan pekerjaan yang menggunung itu harus kau selesaikan sendirian, Pak? Aku sedih mendengarnya. Aku tahu Bapak hebat, tapi aku tahu Bapak kecewa atas semua ini. Bapak yang sabar ya.., jaga kesehatan jangan sampai sakit.

Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Bapak. Semoga masalah ini lekas selesai dan Bapak mau makan lagi. Jangan makan mie terus, Pak... ngga baik unuk kesehatan. Jangan lupa selalu berdoa ya. Aku sayang Bapak.


Salam hormat,

Putrimu.

Selasa, 11 Februari 2014

Kepada Cuaca




Selamat pagi cuaca Bandung hari ini yang sejuk sekali!
Selamat pagi juga alpukat yang kita nikmati pagi ini!

Halo cuaca, kamu tolong ya berbaik hati hari ini. Saya ada keperluan yang penting sekali. Iya, hari ini saya mau kencan sama dia. Lumayan jauh nih, ke daerah Ciwidey sana. Mana kita berdua kesiangan lagi bangunnya. Payah banget ya, udah sholat subuh malah tidur lagi, hadeuuh..

Rencananya hari ini kita mau nge-date ke Situ Patengang sana. Cuaca yang baik, semoga kamu moodnya sedang oke ya. Tolong ya, jangan terlalu panas, juga jangan terlalu dingin. Yang pas-pas aja lah ya.., terus, nanti tolong ya kasih sedikit kabut yang mistis-mistis gitu di sana, soalnya saya mau motret, biar agak-agak dramatis gitu hasilnya.

Jam berapa sekarang?
Wah... jam 10.22 W.I.B...!!

Baiklah, sekian dulu surat saya, maaf ya kalau to the point, soalnya saya buru-buru, mau makan pagi dulu juga nih. Makasiiih ya, cuaca, semoga kita bersahabat hari ini!

Salam.

Kepada Oma Dan Opa Yang Romantis



Teruntuk : Oma dan Opa yang romantis...


Selamat sore, Oma dan Opa yang romantis.., apa kabar? Mungkin senja ini Oma dan Opa sedang duduk-duduk menikmati sore kota Bandung yang tak berhujan. Mungkin Oma sudah membuat kue dan membuatkan teh hangat untuk Opa. Teh manis yang hangat, sehangat cinta kalian yang terlihat nyata pagi itu.

Cinta itu bukan benda fisik yang bisa kita lihat wujudnya, namun cinta mewujud dalam bahasa semesta yang pesannya sampai pada orang yang melihatnya.  Seperti ketika pagi itu aku sedang berjalan-jalan hunting foto di daerah Braga.

Sosok kalian begitu istimewa, melintas dan menebar udara beraroma bahagia. Genggaman tangan Opa yang begitu kuat untukmu, Oma. Genggaman yang entah itu adalah genggaman tangan keberapa kalinya sepanjang kisah kalian. Menurutku, Genggaman tangan adalah salah satu bahasa paling nyata dari cinta. Tak perlu kata-kata.

Derap kalian begitu seirama, tak saling meninggalkan, tak juga terlalu dekat, tapi cukup. Seperti cinta. Cinta memberikan udara yang cukup. Tak pernah terlalu banyak, namun juga tak membuatmu sesak. Cukup. Cukup untuk membuatmu tetap mejadi manusia yang apa adanya. Apa adanya dan tetap menjadi seorang yang sederhana.

Oma dan Opa yang romantis, aku ingin tahu bagaimana keseluruhan kisah cinta kalian. Siapa yang mulai mengajak berkenalan? Bagaimana ceritanya? Sudah berapa kata , “ Aku cinta Kamu”, yang saling kalian ucapkan? Menurut Oma dan Opa pentingkah kita mengucapkan kata cinta setiap hari? Perlukah pertanyaan semacam itu? Jika nama orang yang kita cinta terselip dalam doa kita setiap hari.

Oma dan Opa yang romantis, semoga kalian selalu sehat dan bahagia. Aku ingin sekali diberikan kesempatan bertemu kalian lagi, agar aku bisa mendengar kisah kalian, agar aku bisa melihat tatapan mata kalian satu sama lain, dan agar aku bisa mengabadikan gambar kalian dari depan. 

Terimakasih ya, Oma dan Opa yang romantis, berkenan meninggalkan jejak di kameraku, juga di hatiku. Sampai jumpa lagi!


Salam,
Cappucinored – Fotografer Amatir.

Senin, 10 Februari 2014

Teman Bicara




Kepada teman bicara.

Teman bicara, jangan anggap aku perempuan manja yang selalu ingin kau perhatikan. Jangan anggap aku kekanakan dan seperti anak kecil. Aku hanya ingin kita bertemu dan bicara. Itu saja.

Dalam ruangku, aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Dalam ruangku, aku terlihat baik-baik saja, tapi sesungguhnya aku rindu pertemuan dan perbincangan kita.

Teman bicara, memang saat ini teknologi sudah sangat canggih dan seolah memperpendek jarak. Tapi bagiku, itu semua semu. Aku tak ingin hanya bisa melihat  pesan-pesan darimu yang tak bisa kurasakan detaknya. Aku tak ingin hanya bisa mendengar suaramu tanpa bisa kurasakan teduhnya. Aku ingin melihat matamu berbicara. Aku ingin kamu ada di sini.

Sederhananya, aku ingin kamu ada di sini, duduk di sebelahku.Tak apa hanya duduk saja, kita bersisian menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa, tanpa ke mana-mana pun aku tak apa. Cukup diam di sini, di ruang bicara kita. Aku hanya rindu kamu dan sungguh ingin bertemu.


Teman bicara, segeralah datang, secepatnya.

Maafkan aku yang egois dan mungkin dalam pikiranmu, aku adalah perempuan yang menuntutmu banyak hal. Tolong aku dimaafkan ya.


Dariku, teman bicaramu yang tengah rindu.