Rabu, 05 Februari 2014

Namaku Bukan Dona


Namaku bukan Dona. Dulu memang namaku : D-O-N-A.

Sewaktu kecil, teman-temanku selalu mengatakan bahwa namaku cantik dan keren, namaku seperti nama artis. Iya, dibanding nama mereka yang biasa-biasa itu, namaku memang terdengar keren, seperti nama orang luar negeri.

Sewaktu kecil, aku selalu bertanya pada Ayah, apa arti dari namaku? Ayah tak pernah memberikan jawaban yang memuaskanku. Ayah hanya menjawab seadanya.

“Pokoknya nama Kamu itu bagus, Nduk..., bilang saja sama teman-temanmu, namamu artinya bagus..”.

Awalnya aku tak pernah mempermasalahkan namaku, namun semakin besar, memang rupaku sedikit lebih “cantik” dibanding teman-teman sebayaku. Kulitku putih, rambutku ikal dan  berwarna cokelat. Tinggi badanku di atas rata-rata teman sebayaku. Hidungku pun mancung.


Namaku bukan Dona. Tak lagi Dona. Saat aku beranjak dewasa dan mengetahui sesuatu, itu nama seseorang yang meninggalkanku tanpa alasan sejak aku lahir ke dunia. Nama Ibuku. Ibuku yang cantik dan berasal dari luar negeri. Ibu, yang mencintai ayahku, namun cinta mereka seperti negeri dongeng. Tak memperoleh restu, tak berakhir bahagia. Ibu pergi meninggalkanku. 




: Setiap hari Rabu, kru BFG menulis FF161Kata, dan ini tulisan hari Rabu yang kedua :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar