Selasa, 25 November 2014

Perihal Sederhana



Cinta tak pernah sesederhana seperti kata mereka
Ada banyak rindu yang mesti kita pupus satu-satu
Ada jarak yang mesti kita lupakan hitungannya
Ada ruang kenangan yang juga harus kita tinggalkan
Cinta tak pernah sederhana seperti kata Sapardi
Ada bahagia yang belum kita temukan di setapaknya


#SeninBerpuisi #MondayFlashFiction

Senin, 10 November 2014

Cerita Tentang Keajaiban

a photo by : M.Fadhil Gooner  (usia kandungan : 4weeks kira-kira)

Keajaiban itu akhirnya saya rasakan. Jujur, sampai sore ini, ketika saya menulis pun, masih seperti mimpi. Bagaimana tidak, saya dan dia melalui hari-hari sebelum ini dengan penuh harap dan doa. Di hari-hari sebelum keajaiban ini tiba, selalu haru ketika setelah sholat saya dengan diam-diam menatap punggungnya, lalu menebak, doa-doanya adalah tentang saya, tentang pengharapan terbesarnya, tentang kita. Terkadang, dalam keadaan dia masih khusyu dalam doanya, saya peluk punggungnya dari belakang. Betapa saya menyayangi dia, yang dalam setiap detiknya selalu memikirkan saya.

Menjadi ibu dari anak-anaknya kelak adalah salah satu impian terindah. Impian itu seakan menjadi nyata, saat kurang lebih akhir Desember, secara tak sengaja saya tes lab, karena ada infeksi yang datang, ternyata saya dinyatakan positif hamil. Kaget tentunya, tak menyangka akan secepat ini. Dokter menyarankan saya bedrest, karena kehamilannya rawan. Setelah sebelumnya, aktivitas saya memang sangat padat. Namun, keajaiban itu tak berlansung lama, Alloh SWT belum mengijinkan kami mengemban amanah itu, satu bulan usia kehamilan, saya mengalami abortus spontan (dengan sendirinya). Blighted ovum terjadi pada saya, atau istilahnya janin di dalam rahim saya tidak berkembang.

Merasa bersalah, karena tak mampu menjaga dan berbagai perasaan tak enak lainnya. Tapi dia tetap memberikan dukungan, tetap berpikir postif. Banyak-banyak berdoa dan yakin. Begitu katanya. Jujur, justru sayalah yang sering merasa pesimis, setiap kali pada saat woman perioed itu ternyata datang. Sedih, kok belum positif ya? Ada saat-saat saya terlambat beberapa hari, dengan penuh harap, saya testpack saja, berharap hasilnya positif, dan beberapa kali saya menelan kecewa. Ternyata belum. Ya, jadi mengalami bagaimana rasanya sebuah penantian itu. Alloh Maha Tahu yang terbaik, kapan waktu itu tiba. Mungkin saya memang belum dirasa siap.

Banyak artikel-artikel yang saya baca dan saya berusaha hidup sehat. Makan makanan yang sehat, salah satu ikhtiar juga mengkonsumsi asam folat atas saran dokter, jika sedang program hamil. Dia adalah salah seorang yang membuat saya tak sedih, karena dia begitu optimis. Suka malu sama diri sendiri, saya yang diam-diam suka pesimis. Mamah juga dengan tak henti berdoa untuk kami. Maka, kuncinya adalah bersabar.

Ketika itu penghujung September 2014. Beberapa hari ke belakang saya merasa ada yang tak beres dengan kondisi badan saya. Sakit perut, ngga enak perut, sering terbangun ketika malam padahal sejak menikah, jadwal begadang saya sudah sangat-sangat jauh berkurang, hanya ketika ada DL saja :D Lalu mendadak nafsu makan saya meningkat, kan aneh. Yang lebih aneh, saya sedikit telat menyadari, bahwa jadwal datang bulan saya terlambat. Biasanya di akhir bulan saya sudah haidh. Curiga, tapi berdasarkan beberapa kali pengalaman testpack yang hasilnya negatif, saya biasa saja. Walaupun berharap sih sebenarnya. Selain itu, ketika saya yoga, saat gerakan mengangkat kaki ke atas, perut saya sakit. Segera saja yoga-nya saya hentikan. Feeling saja sih.

Di hari ketiga saya terlambat haidh, akhirnya saya meluncur ke apotek, membeli testpack. Di rumah ada sih, tapi yang harganya murah. Padahal sih keakuratannya sama saja. Pernah malah, rekan guru bilang begini, "Kalau yang murah aja positif, apalagi yang mahal", begitu katanya.

Saya mengatakan keanehan-keanehan ini padanya. Dia yang sedang menjalani tugas negara, seperti biasa menyampaikan sugesti positifnya. Banyak-banyak berdoa juga, katanya. Sakit perut itu datang lagi, rasanya sama dengan ketika akan haidh, tapi ini kenapa haidhnya belum datang-datang juga?

Pagi itu tanggal 1 Oktober.  Setelah niat yang kuat pada malam harinya, akhirnya saya memberanikan diri untuk testpack . Rasanya deg-deg-an, sampai-sampai untuk merobek kemasan testpacknya saja gemetaran. Saya memejamkan mata dan berdoa dalam hati (padahal kan lagi di kamar mandi :D). Saya celupkan alat testnya, saya mau berani melihat apapun yang terjadi. Sedikit demi sedikit cairannya naik, strip satu telah terlewati, dan hati saya terlonjak ketika cairan itu masih naik ke atas dan sedikit demi sedikit ada strip kedua yang bisa dengan jelas terlihat. Selesai. Alhamdulillah, stripnya dua, garisnya dua, artinya positif. Bingung sih, inginnya langsung meluk dia, tapi kan dia lai prajab :( Akhirnya turun tangga, bilang sama mamah, yang sontak disambut ucapan hamdallah darinya, lalu spontan keluar wejangan, "Jangan naik turun tangga...", oh baiklaah :D


Testpack pertama, 1 Oktober 2014

Setelah mamah, ingin rasanya menelepon dia, tapi kan lagi di kelas. Ya sudah, kirim pesan whatsapp saja dan kirim foto hasil testpack. Kalimat-kalimat balasannya membuat haru, alhamdulillah, kamu mau jadi ayah, itu kalimat pertama yang saya kirim.

Keesokan harinya, karena ingin yakin, saya testpack lagi (iseng banget ya :D), pun hari ketiga hehehe.. Cukup tiga kali aja sih ya.



Kontrol ke dokter kandungan pertama kami lakukan di Bekasi. Untuk memastikan janin sehat dan berada dalam kantung hamil. Alhamdulillah, dia sehat dan ada. Walaupun masih belum terlalu kelihatan saking kecilnya, tapi dia ada. Subhanallah, ajaib.

Minggu pertama hingga minggu ke enam usia kandungan, saya tidak mengalami morning sickness atau sick-sick jenis lain yang  biasa dialami oleh ibu hamil. Pola makan food combining (walau masih abal-abal ya), masih dijalani. Tidak ada mual-mual dan semacamnya. Namun, saat memasuki usia 7 minggu, saya mulai merasa cepat lelah, lemes kadang-kadang, dan tidak suka mencium bau masakan. Eneg, bukan mual banget, hanya eneg dan tak nafsu makan. Jadinya banyak ngemil. Saya tetap konsumsi buah, hanya buah yang ngga bikin eneg.

Sabtu, 1 November 2014 kami berkunjung lagi untuk kontrol. Saya dengan persetujuannya, memilih RSB Emma Poeradiredja. Hari itu, untuk kedua kalinya USG. Subhanallah, lebih kelihatan, walaupun masih imut sekali. Kepalanya sudah kelihatan bentuk, pun badannya. Ajaib, kamu ada di dalam rahim bunda, hidup :*

USG ketika usia kandungan 8W3D, panjangnya 18,6 mm, itu yang kecil dalam rahim ^_^

Dapat antrian ke -18 (padahal datang ngga siang yah hehe), tapi ngga masalah, ada yang setia menemani, dan di sana ada banyak anak kecil unyu-unyu :D Ini ketika USG usia kandungannya 8 minggu 3 hari, alhamdulillah sehat. Semoga sehat selalu ya sayang. Hari ini, 10 November usia kandungannya InshaAlloh 9 minggu 4 hari ^_^

Berat badan saya ketika kontrol pertama di Bekasi naik 2,5 kg, tapi kemarin kontrol di Bandung turun satu kilo. Mungkin efek susah makan :(

Jujur, rasanya campur-campur. Bahagia pasti, calon bunda. Rasanya kata itu magis sekali terdengar. Hingga detik ini yang terpikir adalah, bisakah saya menjadi bunda yang baik? Cita-cita sih mau jadi bunda yang keren, dan tetap menjadi istri yang keren juga. Semoga bisa menjadi seperti itu.

Trisemester pertama ini, benar adanya, banyak perubahan yang terjadi. Penyesuaian di dalam tubuh, peningkatan hormon, sulit tidur di malam hari, sering terbangun karena ingin ke toilet, sensitif (gampang terharu lalu nangis *hiy*), hingga ada masa-masa saya mudah badmood dan ngambek sama suami (maaf yah hihi), alhamdulillah suaminya sabar banget (love you more:*). Ngidam? Yang paling kerasa adalah saat tiba-tiba ingin sekali pemotretan. Bukan, bukan saya motret, tapi saya mau jadi modelnya. Terima kasih ya murid saya, A Fadhil, mau motretin ibu guru :XD Tapi, masa-masa narsis itu sudah lewat, sempat ingin sekali ke Baluran, tapi apa daya yah :D Tidak ada ngidam yang parah banget sih, hanya ingin saja. Ingin nonton ini, ingin jalan-jalan, ingin bubur ayam juga pernah :)) Alhamdulillah sih tapi ngga ngoyo mesti diturutin.


Teruntuk suami, alhamdulillah akan ada amanah untuk kita. Doakan sehat selalu ya. Terima kasih untuk doa, dukungan, support, dan ada-mu. Pasti melelahkan, weekday harus prajab atau aktivitas kantor, weekend harus ke Bandung, dan minggu malam sudah harus back to work. Semoga Alloh selalu menjagamu sayang :)


P.S : Ini hadiah tanggal 8 yang terlambat, maaf ya, kamu kan tahu kondisiku :D Jaga kesehatan sayang, we love you :*


Minggu, 26 Oktober 2014

Pagi, Hujan, dan Sebuah Kehilangan






Hujan turun tiba-tiba
Pada hari ke lima belas di bulan Desember
Serbuk gerimisnya terasa dingin
Diam-diam menetes di ujung jemari

Hujan turun tiba-tiba
Saat pagi baru tiba di ujung jendela
Tiada berkabar atau memberi pertanda
Selayak rindu dan jatuh cinta

Selamat pagi, Nona bersepatu merah!

Nona sedang kehilangan?
Mari kita berjalan sejenak
Usah khawatir
Di luar hujan hanya tinggal rintik-rintik
Mungkin setelahnya pelangi muncul sepersekian detik

Mari, Nona
Berjalanlah bersamaku sebentar saja
Merayakan tangisan dan air mata
Sungguh bukanlah suatu dosa




*Puisi ini diikutsertakan dalam GIVEAWAY Merayakan Puisi - Mandewi & I_am_BOA

Selasa, 30 September 2014

Bumi dan Matahari Jatuh Hati Padamu







Bumi
Lagi-lagi langit muram. Aku mendongak lebih lama. Kurentangkan tanganku lebar-lebar, agar riuh angin menelusup bebas ke dalam hatiku. Ini musim apa sebenarnya? Mengapa matahari enggan sekali berbagi cahayanya walau sedikit?

Udara kering. Taman ini sendu sekali. Daun-daun terserak beberapa meter, lalu diam. 25 tahun hidup di dunia, inilah tahun tersuram bagiku. Hanya dia, yang membuat hidupku sedikit bersinar. Tunggulah beberapa saat lagi, biasanya dia akan melewati taman ini untuk kemudian dijemput oleh siapa aku tak tahu. Mungkin ayahnya, supirnya, omnya, atau mungkin tunangannya. Tapi, kemungkinan terakhir sepertinya tidak mungkin. Perempuan itu dijemput oleh pria dewasa yang aku taksir usianya jauh lebih tua darinya. Atau mungkin, dia penyuka lelaki lanjut usia? Semoga tidak. 

Aku pura-pura membaca buku yang aku pinjam dari temanku, semoga dia terkesan. Ah, salah tingkah, padahal dia belumlah lewat.

***

Matahari
Manusia-manusia itu terlihat resah. Cadangan air mereka pastilah sudah menipis. Air akan menjadi barang yang sangat mahal sebentar lagi. Sebenarnya aku kasihan pada mereka. Tapi, mengingat tingkah laku mereka yang seenaknya, aku jadi malas. Biar saja, biar mereka menderita dan merasakan dulu kesusahan. Biar mereka bisa lebih menghargai.

Angin menyapaku lalu pergi. Awan tersenyum dan kuberi senyuman balik. Mereka sungguh sahabat-sahabat yang mengerti. Aku resah sebenarnya dengan perbuatanku sendiri. Mungkin di bawah sana, manusia-manusia baik itu menjadi korban keegoisanku, mereka yang sebenarnya mencintai sekitar mereka. Ah, dilema. Salah satunya mungkin dia. Iya, perempuan yang selalu melewati taman di sore hari.

Itu dia. Dia begitu manis sore ini. Tanpa riasan berarti pun wajahnya sungguh enak dipandang. Begitu anggun walau bersepatu kets. Senyumnya begitu tulus, tanpa sadar aku pun tersenyum. Semoga dia melihat.

Dia mendongak sebentar ke sini. Aduh, aku malu.

***

Bumi
Apa aku tidak salah? Tadi matahari bersinar. Sebentar memang, kemudian redup kembali. Mendung, tapi tiada pernah ada hujan. Saat yang sama perempuan itu mendongak ke langit. Lalu matanya menatapku sejenak lalu. Kami bersitatap beberapa detik. Refleks aku kembali menekuri bacaan yang sebenarnya sama sekali tak kubaca. Ah, bodoh sekali, kenapa tadi tak memberinya senyuman. Aku merutuki diriku sendiri.

Dunia bertambah suram. Sore ini cukup. Dia sudah dijemput oleh si entah siapa itu. Malam sebentar lagi akan menjelang. Sama saja. Siang dan malam di sini tak terlalu berbeda jauh. Malam gelap pekat, sedang siang hanya kelabu, walau kadang pekat.

Dunia tempatku tinggal sudah tak ramah lagi. Semua seperti manusia-manusia robot. Bernyawa tapi tak berhati. Lalu lalang kendaraan yang bahan bakarnya membuat siang seperti malam, dan malam bertambah kelam.

Aku berjalan sambil sesekali menendang-nendang kaleng bekas minuman siap saji. Tiba-tiba aku menghentikan langkahku, kaleng bekas minuman itu entah sudah ke mana.

Beberapa meter di hadapanku, ada perempuan itu. Bukankah tadi dia sudah dijemput? Apa yang sedang ia kerjakan?

***


Matahari
Wah rupanya senyum sejenakku tadi menjadi trending topic di bawah sana. Perempuan tadi mana ya? Oh rupanya dia sudah dijemput oleh ayahnya. Pasti ayahnya, tunangan atau pacarnya tak mungkin selanjut itu usianya. Pacarnya? Apakah perempuan itu sudah mempunyai kekasih? Semoga belum.

Jatuh cinta yang begitu sulit. Siapa nama perempuan itu aku belum tahu. Pernah terpikir meminta tolong pada angin untuk menyusup sejenak ke kamarnya atau tempat dia kuliah, atau saat dia tengah melintas melewati taman seperti biasa. Tapi, aku malu. Reputasiku bisa runtuh nanti.

Eh, mana perempuan itu? Yah...kehilangan jejaknya.

***


Bumi
Aku berdiri dengan jarak yang cukup aman darinya. Perempuan itu tertawa-tawa dikelilingi beberapa anak kecil yang berpakaian sederhana dan agak kotor. Anak-anak itu sepertinya pemulung atau anak-anak jalanan.

Perempuan yang masuk kategori keren dan langka. Mau berdekat-dekatan dengan anak-anak yang sedikit kotor, dan mungkin bau. Aku melangkah lagi beberapa meter. Penasaran, mereka sedang apa.

Setelah mendapat spot yang lebih enak, kini aku bisa melihat dengan lebih jelas. Sayup-sayup kudengar perempuan itu berkata sesuatu. Oh, suaranya begitu merdu. Lembut namun berkarakter. Dia mengajak apa tadi? Operasi semut?

Perempuan itu membagikan plastik-plastik berukuran besar kepada anak-anak di sekitarnya. Anak-anak itu berebutan untuk mengambil plastik darinya. Kok, mau ya? Tapi, aku juga mau. Motif kamu beda, aku mendengar suara hatiku sendiri.

Kini mereka berlarian ke segala arah. Memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitar mereka. Perempuan itu juga melakukannya. Aku mundur beberapa langkah, saat perempuan itu menuju tempatku.

Wajahnya bersinar, padahal matahari sore sama sekali tak membagi kemilaunya.

***


Matahari
Oh itu dia. Kenapa dia tak jadi pulang ya? Mana body guardnya? Sekarang ia sedang dikelilingi anak-anak yang hmmm... sepertinya anak-anak jalanan. Waduh, lagi apa ya dia? Apa anak-anak itu tidak berbahaya? Aku khawatir.

Anak-anak itu dengan antusias mengerubungi perempuanku. Perempuanku? Yah, bolehlah sedikit ngaku-ngaku. Aku menajamkan pendengaranku. Apa katanya? Operasi semut?

Seketika anak-anak itu berlarian ke segala arah. Memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitar mereka. Perempuan itu juga melakukannya. Aku tercekat. Ingin membantunya. Tapi bagaimana bisa?

***


Bumi
Untuk beberapa saat aku hanya terpekur di tempatku berpijak. Perempuan itu telah membuatku jatuh hati, dan kini, aku jatuh hati untuk yang kedua kalinya. Cantik dan berbudi. Kata ibuku, carilah perempuan yang seperti itu. Tidak hanya cantik fisik, tapi cantik pula hatinya.

Anak-anak itu telah kembali dengan kantung-kantung plastik yang terisi penuh. Mereka mengerubungi perempuanku. Hah? Perempuanku? Kenal juga belum. Jadi malu. Loh, mereka mau ke mana, kok pergi?

Perempuan anggun bersepatu kets itu berjalan riang, tangannya menggandeng anak-anak yang tak kalah riang dengannya. Semakin lama, mereka semakin jauh dari hadapanku. Lagi-lagi aku terpekur. Ada sesuatu yang terasa di hatiku. Aku malu. Iya, malu pada perempuanku. Woy! Dia bukan milikmu. Iya, Iya.

Perempuan hebat. Aku terkadang hanya bisa merutuk dan merutuk tanpa berbuat. Tapi dia? Ah, aku semakin jatuh cinta padanya. Semoga besok sore aku bisa bertemu dengannya lagi.

Aku melangkah pulang, sambil sesekali kuambil sampah-sampah yang ada di hadapanku. Kumasukkan ke dalam ranselku. Kotor? Tak apa. Aku ingin berbuat sesuatu juga.

***


Matahari
Mataku berkaca-kaca. Dia sungguh cantik, hati dan perangainya. Perempuan itu telah membuatku jatuh hati, dan kini, aku jatuh hati untuk yang kedua kalinya. Cantik dan berbudi. Kata ibuku, carilah perempuan yang seperti itu. Tidak hanya cantik fisik, tapi cantik pula hatinya.

Aku begitu malu. Aku terlalu egois dengan sikapku yang begini. Enggan berbagi cahayaku walau sedikit. Apa yang dilakukan perempuan itu membuatku terdiam. Ada sesuatu yang terasa di hatiku. Aku malu. Iya, malu pada perempuanku. Woy! Dia bukan milikmu. Oh, iya.



Baiklah, aku mengangguk-angguk sendiri. Esok aku akan membuat wajahmu lebih bersinar. Semoga esok kita bisa berjumpa lagi ya, dan semoga esok engkau bahagia di sana, menikmati sore yang berjingga, dariku. 



*Cerpen ini diikutsertakan dalam #30DaysSaveEarth



Sebuah Puisi Abu-Abu Untuk Bumi yang Tengah Kelabu





Di beranda rumah kita yang abu-abu
Udara begitu menggugu
Manusia-manusia berjalan kaku
Bunga-bunga tiada lagi berbau

Aku dan kamu
Sudah lupa harum tanah sesudah hujan
Sudah lupa bagaimana indahnya suara gerimis
Sudah lupa bagaimana gemericik air menetes di atap rumah
Sudah lupa

Ah, ya
Pun soal matahari pagi dan petang
Kemanakah rupanya kini?
Jingga atau merah saga pun tak lagi menyapa
Mungkin ia pun sudah lupa caranya memberi warna

Setiap sore yang remang-remang itu
Cangkir-cangkir kopi tak lagi sama
Mata meredup
Seredup harapan soal warna-warni yang menghilang

Ke manakah pagi yang lalu
Saat embun menyapa daun-daun
Dingin membuat kita enggan beranjak
Saling memeluk dalam udara yang tersenyum

Awan di langit menyisih
Tak ingin terlibat lagi percakapan kita
Mungkin dia sudah bosan
Soal lalu-lalang angin dan topan
Yang tak tentu arah

Di sini,
Di rumah kita yang abu-abu
Musim-musim berjalan tanpa jeda
Entah semi, gugur, atau kemarau
Semua sesak hingga ke pelupuk mata
Kering

Aku tahu,
Kamu begitu merindu jejak-jejak bunga di pelataran
Langit biru yang melukis kita
Juga soal kabut yang turun perlahan diam-diam

Aku tahu,
Kamu pun rindu menyapa kunang-kunang
Atau sekedar berbincang dengan jangkrik-jangkrik di sudut ruang
Atau sekedar bersandar pada cahaya rembulan

Di rumah kita yang abu-abu
Dulu,
Pernah kau hadiahi aku setangkai mawar
Merah, bukan kelabu
Indah

Di rumah kita yang abu-abu
Tiada lagi tanah basah sehabis hujan
Tak ada lagi bunga-bunga
Yang diciptakan cahaya matahari

Di rumah kita yang abu-abu
Kita,
Meringkuk saling memeluk
Merindu soal bumi
Merindu soal bunga-bunga yang bermekaran
Merindu soal banyak warna selain abu-abu
Kita sangat rindu


Di rumah kita yang abu-abu
Kini,
Hanya ada puisi sederhana di secarik kertas tanpa warna
Untuk bumi yang tengah kelabu


Di rumah kita yang abu-abu
Tangan kita terentang
Kaki-kaki kecil kita melangkah
Mencipta dunia baru di beranda rumah



*Puisi ini diikutsertakan dalam #30DaysSaveEarth



Selasa, 23 September 2014

Dari Atas Rumah Pohon



suatu sore
sore yang basah sehabis gerimis

licin
waktu itu jalannya cukup licin

warna hijau sawahnya lebih romantis karena ada tetesan air hujan di ujung-ujungnya

hmm..., harum sekali
ingin cepat-cepat sampai di sana


berlari-lari kecil karena tidak sabar
itu... itu..
sudah dekat!


segera dinaiki anak tangganya satu persatu
tap..tap..tap..

dan diam


menangis....boleh kan..???


(Bandung, 11 September 2011, puisi lama)

Rabu, 10 September 2014

Memoire





Sore di luar tak disapa gerimis yang kita suka. Aku perlahan menjerang air panas, membuat kopi yang harumnya akan menguar hingga ke luar jendela. Aku lupa, kapan terakhir kali aku membuatkan kopi untukmu. Tiga sendok kopi hitam, satu sendok gula. Itu takaranmu.

Aku pun lupa, kapan terakhir aku menitipkan jemariku di saku jaketmu. Berlindung dari dingin malam kota ini yang menusuk. Memelukmu dari belakang dan menempelkan pipiku di bahu kananmu. Tersenyum manis melalui kaca spion sepeda motor tuamu. Lalu kamu akan menyempatkan untuk membelai tanganku.

Aku sudah lupa, kapan kita menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota ini. Menghitung daun-daun yang jatuh perlahan. Menguning dan tenggelam dalam pelukan tanah yang basah oleh hujan. Aku sudah lupa.

Aku sudah lupa bagaimana mengingat rindu. Menghitung hari-hari, pagi, senja, dan berapa banyak bintang yang tak lagi dapat kita hitung bersama.

Aku sudah tak bisa lagi bertanya padamu, mengapa jarak begitu jahat mengambil kebersamaan kita? Aku sudah tak bisa lagi memelukmu kapan pun aku mau. Aku sudah tak mampu lagi, bercakap-cakap menatap senyum mataharimu.


***


"Untuk berapa lama lagi, aku belum bisa bilang dan memastikan. Pasti kamu sedang membaca dan lalu menangis ya, novelmu kan melow semua..."  suaramu meledek seperti biasa.

"Iya, ini parah banget deh endingnya ko gini banget ya, pasti bentar lagi novelnya diadaptasi jadi film deh... " tebakku.

"Bukannya kamu suka ending yang sedih gitu, akhir kan ngga selalu bahagia, katamu.. "

***

Ini tahun kesekian bunga-bunga mawar di samping rumah memberikan warnanya. Aku belajar bersabar menghadapi bunga-bunga dan tanaman-tanaman itu darimu. Aku selalu gagal, tapi kamu begitu telaten, aku malu.

Ini tahun kesekian aku berjalan sendiri menyusuri jalanan yang tiada genggamanmu. Merapatkan ingatan soal keseharian kita yang begitu aku rindukan.

Ini tahun kesekian aku merayakan hari bahagia kita, sendirian.

Ini tahun kesekian, aku tanpamu.

***

Pagi yang basah di bulan Desember. Jejak kaki yang tertinggal di jalanan-jalanan yang biasa kita lewati.

Aku berjalan untuk sekedar mengingat, berapa banyak wajahmu masih terekam di hatiku.

***





P.S : Selamat membaca, kamu. Ini cerpen mini hadiah untuk tanggal 8 kita. Ketika aku melihat suami almh. uwa, aku tergetar, begitu jelas kesedihan dan kehilangan beliau. Begitulah pasangan hidup, bagimana rasanya ditinggalkan, pasti rasanya begitu sulit.

Aku, ingin lama-lama bersamamu, ingatkan ya kalau aku salah, maaf selalu merepotkanmu dan membebanimu dengan pikiran-pikiran tentangku yang rumit. Aku mencintaimu sayang, selalu dan selamanya :)