Tampilkan postingan dengan label Juli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Juli. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Juli 2013
Epilog Untuk Juli
Jalanan basah karena hujan sedang ingin berdialog dengan senja yang enggan jingga. Aku dan kotamu. Hujan dan perjalanan kita, tak terasa sudah sejauh ini. Tetaplah menjadi teman perjalananku hingga nanti.
Hujan mungkin menghapus beberapa kenangan. Tapi baginya, hujan adalah penanda kenangan yang belum usai. Aku di perjalananmu, tak pernah beranjak kemana-mana. Tinggal.
Jika nanti di perjalanan kita aku mengesalkanmu, jangan kemana-mana, tetaplah di sampingku.
Kamu memilih hatiku sebagai rumahmu, demikian juga aku. Kita akan selalu saling memperjuangkan.
`di penghujung Juli, pada pagi bulan Ramadhan :)
Label:
Juli,
Juni,
kita,
kotamu,
perjalanan
Selasa, 09 Juli 2013
R I N J A N I (Bag.1)
Desa Sembalun sore itu basah disapa hujan. Langkah-langkah kecilku berawal dari sini. Rinjani tak nampak sama sekali, tertutup awan tebal. Hai, mari kita berkenalan, kamu seberapa tinggi-kah? Sebenarnya dalam hati ada banyak keraguan untuk menyapamu, tapi kakiku sudah sampai di sini, menggangguk pada mimpi yang tiba-tiba mengajakku pergi, mendekatimu, Rinjani.
![]() |
| Sembalun |
Yang menjajari langkahku tak banyak bicara. Aku hanya diam berdialog dengan hatiku sendiri. Sejujurnya aku gugup, perjalanan kali ini begitu berbeda. Rinjani sungguh menggetarkan hati.
Terdapatlah seorang ayah yang menyegajakan diri menyapamu. Oleh sebab nazarnya terhadap pertambahan usia putri cantiknya, yang bernama Rinjani. Jauh langkahnya dari Makasar, sungguh kuat hatinya. Tak kalah mencengangkan, seorang ibu yang tengah mengandung lima bulan, turut serta dalam perjalanan ini. Hebat. Kagum. Salut.
Malam akan menjelang, dan mulailah terasa carrier di pundakku meninggalkan rasa sakit. Hei, ini masih jauh dari puncak, Nona. Sungguh lelah, jujur saja. Berjalan terus itu bukan pilihan, tapi keharusan. Sedikit lagi, selalu itu yang ia ucapkan. Sejujurnya, seberapa lama "sedikit lagi" itu, hei? Hati kecilku protes, namun lagi-lagi kaki ini lebih mengambil peran, memerintah otak untuk tak egois.
Jeda pertama dalam perjalanan menapak Rinjani. Sudah lewat Desa Sembalun, sudah jauh dari pos satu, di mana ini? Sudah dekat menuju setapak Plawangan. Rumah kecilku hanya berisi empat perempuan minoritas di rombongan, satu tenda hangat untuk kami tempati. Perempuan-perempuan istimewa. Hanya kami berempat saja. Membesarkan hati.Perempuan-perempuan hebat dalam rombongan. Iya.
![]() |
| Ufuk pagi menuju Plawangan, foto miliknya : Fajar Ramadhan :) |
Terbangun oleh suara-suara alam, lalu kebingungan terhadap keberadaan diri sendiri. Iya, di mana ini? Begitulah pagi itu terjadi. Tak lama kemudian pagi menjadi normal ketika aku mendengar 'tetangga sebelah' sedang sibuk melipat tenda. Pagi ini sungguh absurd. Butuh waktu untuk menyadari tempatku berpijak.
Matahari belumlah tinggi kala itu, kabut putih perlahan turun membelah perbukitan yang sungguh elok membingkai mata. Dia beruntung, di sapa ufuk pagi yang begitu cantik. Tepat ketika membuka mata. Sedikit iri.
Seperti mimpi rasanya. Ini di mana? Aku berjalan di antara kabut berwarna putih bersih. Sungguh rasanya ingin berlama-lama. Hati ini rasanya menjadi lebih bersemangat. Ini belum ada apa-apanya, tapi sudah begini indahnya. Walau sebenarnya, tak berapa kemudian beban carrier itu terasa kembali. Oke, tak apa. :)
Mari terus melangkah, mimpi itu untuk dihadapi, untuk digenapi. (Bersambung)
Baca Versi santai perjalanan part 1 Rinjani-Lombok
part2 :D
part3 dan masih bersambung :D
Senin, 04 Maret 2013
Desember
![]() | |||
| Penghujung Desember, Peucang Island |
Ada mata yang mengembun pada Januari,
yang terlalu lelah mengeja bayang yang tak terang
Ada jingga yang menghilang pada Februari,
karena kepergian selalu enggan mengatakan
Ada rasa yang hadir di sudut sepi sehingga untuk mengangguk pun tiada sanggup
Ada kukuh pada April yang berbicara pada hati yang merapuh
Kisah pada hitungan bulan manusia-manusia
Berbicara dalam diam dan kesunyian
Biarkan banyak jejak yang kita reka
Biarkan jawab menyapa di kelam gemintang
Biarkan gerimis lebih banyak hadir di Desember
Lalu biarkan kisah hujan yang teduh terangkai pula di Desember
Ada kita nanti, di Desember
Pada sederhana dan bahagia...
*teruntuk : yang menyukai bulan Desember
Langganan:
Postingan (Atom)




